Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2019

Umat Islam Indonesia Jangan Kagetan (KENAPA.?)

Umat Islam Indonesia Jangan Kagetan (KENAPA.?)

Saya tidak tahu mau Saya mulai darimana tulisan ini, tapi begini: setelah Saya perhatikan, dari satu masalah ke masalah yg lain, ko sepertinya beberapa orang di Indonesia ini mudah kaget, dikit-dikit agama, ini agama, itu agama, ini penghinaan, itu pelecehan dsb.

Hhh.. Allahulmustaan.

Padahal.. Kalau diperhatikan lebih teliti lagi, beberapa kasus dari semua itu bukan masalah agama, tapi ada yang masalah adat, ada yg masalah peraturan, ada yg masalah politik dsb.
Hal sprti itu pastinya tidak baik.

Kenapa? Karena beberapa hal:
1- agama di jadikan kedok untuk kepentingannya masing-masing (ini sangat tidak baik).
2- kasihan orang awam, mereka menjadi ganas tanpa melihat dampak dan hakikat dari mslh itu sendiri.

So, be smart guys! Ok?

Namun demikian.....

Important: kolom komentar saya tutup, jika ada yang mau nyakar saya, silahkan di part 3 dengan Sayaarat sopan dan ga pake mingkem ujung-ujungnya.

Namun demikian, bukan berarti agama harus di kesampingkan (lebih-lebih dgn alasan menjaga keutuhan NKRI), contoh: saking tidak tahunya ke mslh agama, sampai-sampai beberapa oknum dari sebuah ormas harus melakukan hal yg menurut Saya itu tdk terpuji (caranya).

Lebih dari itu, sebagian banyak orang yg bernaung dibawah ormas tsb. akan mati-matian mencari pembenaran akan hal yg tak terpuji itu.

Saya bukan tdk tahu mslh sanad hadits mengenai hal itu, Saya sudah mengkajinya jauh sebelum mslh ini terjadi (lihat highlights story terakhir), bahkan belakangan ini Saya sempet membaca artikelnya prof. dari ormas tsb. terkait mslh ini.

Tp Saya tdk cocok, knp? Karna kesimpulan prof. tsb. bagi Saya kurang tepat dikarenakan beliau memukul rata tanpa harus melihat sikon.

So, di lihat dari sisi manapun, PEMBAKARAN tsb. tidak benar dan apapun argument yg membenarkan pendapat mereka yg pro terhadap kasus tsb. tlah terbantahkan. Namun demikian, bukan berarti Saya membenarkan reaksi dari ormas lain yang berlebihan. Catet itu! Ok?

Jadi, semuanya sama-sama salah.

Lalu yang benar bagaimana?
Allah ﷻ menjawab dalam firman-Nya:
أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن، إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين.


Beberapa hal yg mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua sebagai orang awam.
1- peringatan untuk lebih hati-hati lagi dalam memakai atribut yg bertuliskan kalimat tauhid.

2- tidak benar jika pelaku pembakaran tsb. dianggap anti tauhid, sebagaimana juga tidak tepat mengklaim setiap orang yg kontra terhadap pembakaran tsb. sebagai orang HTI atau simpatisannya.
Namun sangat benar jika oknum tsb. tlah melakukan kesalahan dalam caranya.
Pun juga sangat salah jika mengatasnamakan membela islam dgn menggunakan atribut tauhid tapi di bawak ke kamar mandi atau di injak dsb.

3- tidak di benarkan untuk mengamalkan Amar Makruf Nahi Munkar jika dampaknya akan membuat kemungkaran yg lebih besar.

4- Sikon yg ada di Indonesia, itu tidak sama dgn sikon yg ada di Negara lain.

5- Melakukan sesuatu yg benar namun berakibat buruk, itu akan menjadi hal yg salah. Sebab dalam kaidah fiqihnya:
“الدفع أولى من الرد”.

6- menutup pintu fitnah itu lebih di utamakan daripada melakukan hal yang mendatangkan kebaikan, seperti halnya Rasulullah ‎ﷺ yang menolak untuk membunuh para orang munafik hanya karna kawatir akan menimbulkan fitnah dan asumsi-asumsi sesat di tengah maSayaarakat. Padahal.. Mereka berkali-kali melakukan makar.
Nah, hal ini.. Dalam kaidah fiqihnya adalah:
“درء المفاسد مقدم على جلب المصالح.”

Inti dari semua ini adalah: “semulia apapun keutaman membaca Al Quran, ia akan menjadi berdosa ketika membacanya di dalam kamar mandi.”

Dan pertanyaannya: jika ada bendera merah putih bertuliskan kalimat tauhid, kira-kira adakah yang berani membakarnya?
Jika ada yg berani, apakah ia berarti membakar bendera? Atau kalimat tauhidnya?

Namun jika tak ada yg berani, lalu kenapa ada pembakaran waktu itu?
Artinya: jika ketika itu mereka berani membakar, lalu kenapa yang Merah Putih bertuliskan kalimat tauhid mereka tdk berani membakarnya? Jadi sebenarnya mereka mengagungkan kalimat tauhid, atau benderanya?

Thinkagain

Important: MEMBELA ISLAM TIDAK HARUS TURUN KE JALAN.
DAN MEMBELA NKRI TIDAK HARUS MELUKAI PERASAAN yang seIMAN.

وليس لنا إلى غير الله ‎ﷻ تعالى حاجة ولا مذهب.

Lihat Juga :

Keyword :
islam kagetan, islam kagetan, islam damai islam damai background islam damai bank islam damansara damai benarkah islam damai bukti islam damai bukti penyebaran islam secara damai damai dalam islam damai islam 212 damai islamic wallpaper damai menurut islam dampak penyebaran islam secara damai adalah fenomena islam damai gambar islam cinta damai gambar islam damai gambar islam itu damai hadits tentang islam cinta damai islam agama cinta damai islam agama damai atau agama perang islam agama damai bukan teroris islam agama damai dalam al quran islam agama damai dan rahmat bagi alam islam agama paling damai unesco islam agama yang damai coba buktikan dalilnya islam ajaran damai islam artinya damai islam bukan agama damai islam cinta damai islam cinta damai menolak kekerasan islam damai adalah islam damai ahmadiyah islam damai dalam pandangan remaja islam damai hadits islam damai hari ini islam damai islam rahmatan lil alamin islam damai quran islam dan damai islam disebarkan secara damai islam indah damai islam itu damai islam itu damai bukan teroris islam itu damai dan indah islam mengajarkan damai islam menyebarkan damai islam tidak pernah damai islam yang damai islam yg damai jelaskan islam itu damai kajian islam damai kata islam damai kata kata islam cinta damai khutbah islam damai lagu islam cinta damai lagu islam damai lagu islam itu damai makalah islam agama damai makalah islam itu damai maksud penyebaran islam berlangsung damai menyebarkan islam yang damai dan toleran negara islam paling damai negara islam yang damai partai islam damai partai islam damai aman partai islam damai dan aman (idaman) pengertian islam damai penyebaran islam cara damai menggunakan kesenian penyebaran islam secara damai pesan islam damai puisi islam cinta damai puisi islam damai puisi islam itu damai quotes islam damai tadika islam damansara damai unesco islam damai

Minggu, 14 April 2019

Film “Bumi Itu Bulat”, Plaza Asia Tasikmalaya “diserbu” Banser

Tasikmalaya, Sambut Harlah GP Ansor ke-85, Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya Adakan Nobar Film yang baru saja rilis “Bumi Itu Bulat”, Jum’at sore (13/4). Terpantau sejak pukul 15.30, depan Bioskop XXI KomplekPlaza Asia Jl. KHZ. Mustofa No.326, Tugujaya sudah disesaki ratusan anggota Ansor Banser. sesuai jadwal Film akan diputar mulai pukul 16.00 wib.

Film “Bumi Itu Bulat”, diproduksi bersama dengan Ideosource Entertainment, GP Ansor, dan Astro Shaw. untuk Astro sendiri akan mengedarkan film ini di bioskop Malaysia.

Film “Bumi Itu Bulat”, Plaza Asia Tasikmalaya “diserbu” Banser

Menurut Ketua Ansor, Ricky Assegaf, nobar tersebut sebagai edukasi agar nilai-nilai toleransi semakin tertanam pada diri anggota Ansor Banser.

“Kita wajib mengapresiasi film-film yang mengangkat nilai toleransi, kemanusiaan dan keragaman dalam berbangsa” ulas Ricky lewat pesan singkat.

Ricky melanjutkan, bahwa keberagaman itu adalah kehidupan kita sehari-hari, cuma kita sering lupa jika tidak diingatkan, barangkali lewat narasi-narasi yang ada film ini bisa semakin menyadarkan kita akan toleransi.

“Kita bicara tentang keIndonesiaan, bukan kelompok atau suku tertentu. Kita rawat kebinekaan yang Allah titipkan pada bangsa besar dalam rumah besar kita, Indonesia.” Tandasnya.

Film tersebut diperankan oleh Rayn Wijaya, Febby Rastanti, Rania Putrisari, Kenny Austin, Qausar Harta Yudana, serta Aldy Rialdy. Enam pemain pendukung adalah Mathias Muchus, Tissa Biani, Alfie Alfandy, Ria Irawan, Arie Kriting, serta Christine Hakim.

Berkisah seorang pemuda bernama Rahabi yang memiliki grup musik Rujak Acapella yang beranggotakan Hitu seorang pemuda muslim Ambon yang bercita-cita menjadi anggota Banser, Markus seorang pemuda kulit putih keturunan Tiongoa dan berkeyakinan Kristen, Sayid seorang Muslim Muhammadiyah asal Tanah Minang, dan Tiara Gadis berhijab yang menyukai Rahabi.

Film ini telah dirilis di bioskop seluruh tanah air pada 11 April 2019, maju 6 hari lebih awal dari jadwal sebelumnya 16 April 2019. (cp)

Lihat Juga :

Keyword : download film bumi itu bulat, film bumi itu bulat, film bumi itu bulat, film bumi itu bulat 2019, film bumi itu bulat ansor, film bumi itu bulat banser, film bumi itu bulat cast, film bumi itu bulat trailer, nonton film bumi itu bulat, pemain film bumi itu bulat, pemeran film bumi itu bulat, poster film bumi itu bulat, sinopsis film bumi itu bulat, sinopsis film bumi itu bulat 2019, trailer film bumi itu bulat, 

Jumat, 01 Februari 2019

Kyai Yayan Menjawab Tuduhan Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya

Kyai Yayan Menjawab Tuduhan Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya
Direktur Aswaja Center Tasikmalaya, Kyai Yayan Bunyamin, Memaparkan materi NU dan Wawasan Kebangsaan dalam Madrasah Aswaja sekaligus menyambut Harlah NU ke 93, Kamis malam, 31 Januari 2019 di Pondok Pesantren Al-Mubarok Sukajadi Cibeureum. (Istimewa: Ichan)

Tasikmalaya
, Memahami NU dan wawasan kebangsaan ini penting, di tengah hiruk pikuk Indonesia sekarang, dimana ideologi-ideologi transnasional, yang terus menghujani NKRI ini, baik melalui HTInya, ataupun JAD, JAT dan lainnya yang merongrong terhadap kebinekaan, terhadap konsep kebangsaan NKRI. ( Baca Juga : #PUISI GUSMUS - Tuhan, ISLAMKAH AKU)

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Aswaja Center Tasikmalaya, Kyai Yayan Bunyamin, dalam pertemuan ke-2 Madrasah Aswaja sekaligus menyambut Harlah NU ke 93, Kamis malam (31/1), yang bertempat di Yayasan Ponpes al-Mubarak Sukajadi Cibeureum.

Kyai Yayan memaparkan, bahwa penerimaan NKRI dan Pancasila sebagai dasar negara telah ditetapkan dalam Muktamar tahun 1984. (Baca Juga : Hukum dan Cara Membayar Hutang Puasa Tahun Lalu)

“NKRI dengan Pancasila sebagai bentuk dasarnya itu sudah final. itu adalah puncak perjuangan dan mujahadah umat islam di Indonesia, tidak bisa diganggu gugat,” tutur Kyai yang sering berkomunikasi dengan Dr. H. Nadirsyah Hosen itu.

Kita sering teriak-teriak NKRI itu punya dalilnya, tutur Kyai. Pertama, munas Alim Ulama NU di Situbondo yang ditetapkan dalam muktamar, bahwa NU menerima Pancasila sebagai dasar negara, dan merupakan perjuangan final umat islam di Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Kedua, di dalam UUD 45, tertuang khusus untuk bentuk negara NKRI ini tidak bisa diamandemen. (Baca Juga : Shalawat Adalah Ibadah Terdahsyat)

Di tengah sebagian kelompok yang meragukan atas dalil Cinta tanah air bagian daripada iman, Kyai Yayan meminta untuk membaca kitab Maqosidul Hasanah yang ditulis oleh imam al Hafidz as-Syaqawy.

“As-Syaqawy menyatakan, Hubbul Wathan minal Iman tidak pernah diucapkan oleh Baginda Nabi SAW, akan tetapi esensinya sama dengan esensi hadits-hadits sahih dan nususussyar’iah dalam Al-Qur’an,” jelas Kyai yang pernah berdialog bersama Syech Wahbah aj-Juhaily itu. (Baca Juga : Ulama Perempuan Guru Imam Syafi'i)

Kyai Yayan menduga mereka bermuara fi dilalil Qur’an yang ditulis lmam Sayid Qutub, yang menuangkan bahwa nasionalisme itu berarti saingan bagi Allah, dan masuk pada ashobiyah, dengan mengkutif hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “Tidak termasuk ummatku yang berfanatik, dan jika mereka mati pun dalam kematian jahiliyah.”, sehingga dianggaplah nasionalisme adalah ashobiyah.

Rupanya mereka mengkutip hadits Abu Daud itu tidak jelas, ungkapnya. Karena coba perhatikan hadits setelahnya, Nabi ditanya, Apa Ashobiyah itu Wahai Rasulullah?, Nabi menjawabnya, “(Ashobiyah itu) engkau menolong saudaramu dalam kedhaliman”.
Artinya kalau fanatisme terhadap kebaikan itu tidak apa-apa, bahkan seharusnya dan dianjurkan, tegas Kyai Yayan.

Beliau tidak heran kalau ada yang lantang bicara nasionalisme tidak berdasar, karena mereka baru hafal satu dua hadits. (Baca Juga : Nasehat Indah Syaikh Ibnu Atho'illah As Sakandari.)

“Tidak aneh kemarin ada seorang mualaf yang teriak-teriak nasionalisme itu tidak ada dalilnya. bukan tidak ada dalilnya, tapi ia belum menemukan, emang berapa ratus ribu hadits yang telah dia baca?,” tandasnya

Setelah itu, dalam bahasa yang ringan Kyai Yayan menjelaskan cinta tanah air prespektif Al-Qur’an dan Hadits. Mulai dari tafsir Surat Al-Baqarah: 126, an-Nisa: 66, al-Qashash: 85, Fathul Bari: 3/705, at-Thuruqul al-Hukmiyyah:29-30 serta isi kitab al-‘Alaqoh baina ad-Diin wal Wathan:176. Tidak ketinggalan, Sistem politik dalam Islam, Nalar Politik dan Nalar Teologi NU beliau kupas, dimana sebagian isinya telah dituangkan dalam buku best saller karyanya yang berjudul “Hujjah an-Nahdliyah” cetakan pertama. (cp)


Lihat Juga :

Keyword : ayat alquran yang menjelaskan nasionalisme, hadits hubbul wathon minal iman, cinta negara atau tanah air adalah sebagian dari iman jelaskan maksudnya, kumpulan dalil, hadits tentang hari kemerdekaan, ayat alquran tentang bernegara, dalil merdeka, ayat alquran tentang negara indonesia, dalil nasionalisme, dalil-dalil nasionalisme, nasionalisme tidak ada dalilnya, ayat alquran yang menjelaskan nasionalisme, hadits hubbul wathon minal iman, cinta negara atau tanah air adalah sebagian dari iman jelaskan maksudnya, kumpulan dalil, hadits tentang hari kemerdekaan, ayat alquran tentang bernegara, dalil merdeka, ayat alquran tentang negara indonesia, dalil nasionalisme, dalil-dalil nasionalisme, nasionalisme tidak ada dalilnya, ayat alquran yang menjelaskan nasionalisme, hadits hubbul wathon minal iman, cinta negara atau tanah air adalah sebagian dari iman jelaskan maksudnya, kumpulan dalil, hadits tentang hari kemerdekaan, ayat alquran tentang bernegara, dalil merdeka, ayat alquran tentang negara indonesia, dalil nasionalisme, dalil-dalil nasionalisme, nasionalisme tidak ada dalilnya, ayat alquran yang menjelaskan nasionalisme, hadits hubbul wathon minal iman, cinta negara atau tanah air adalah sebagian dari iman jelaskan maksudnya, kumpulan dalil, hadits tentang hari kemerdekaan, ayat alquran tentang bernegara, dalil merdeka, ayat alquran tentang negara indonesia, dalil nasionalisme, dalil-dalil nasionalisme, nasionalisme tidak ada dalilnya, 

Islam Mengatur Etika dalam Berpolitik, Bukan Sistem Politik

Islam Mengatur Etika dalam Berpolitik, Bukan Sistem Politik

Tasikmalaya, Ketiadaan nash sorih baik dalam alquran dan hadis yang menjelaskan sistem politik Islam mengakibatkan berbeda-bedanya sahabat senior terbaik Nabi dalam menentukan Khalifah setelah Nabi wafat, perlu diketahui bahwa salah satu tujuan politik adalah menduduki kekuasaan dan tatacara menduduki kekuasaan di tiga sahabat Nabi berbeda. Disampaikan oleh Kiai Yayan dalam Madrasah Aswaja PAC Ansor Cibeureum.

Lihat Juga : 6 Kriteria Ulama Menurut KH. Sholeh Darat

Cara Abu Bakar yang diangkat melalui musyawarah sebagian sahabat di bani Tsaqifah bani Saidah berbeda dengan pengangkatan Umar bin Khatab yang melalui wasiat Abu Bakar, begitupun mekanisme pengangkatan Utsman Bin Affan yang ditunjuk berdasarkan hasil tim formatur yang ditunjuk Umar bin Khatab sebelumnya. Papar Ketua Aswaja Center Tasikmalaya ini.

Lihat Juga : Hukum dan Cara Membayar Hutang Puasa Tahun Lalu

Alhasil Islam tidak mengatur sistem politik, yang diatur Islam adalah etika politiknya. Bagaimana Keadilan, Musawamah al insaniyah, kesamaan hak dan martabat setiap warga negara, bagaimana peran pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya itu yang di tilai, bentuknya terserah, tidak harus Khilafah seperti yang dipaksakan oleh HTI, Jemaah Ansoru Daulah dan ISIS.

Lihat Juga : Islam itu Agama - Nusantara itu Budaya

Inilah yang dipahami oleh para sahabat yang langsung belajar dari baginda nabi dalam mengurusi haliyah umat baik dalam agama dan negaranya, dari tiga sahabat terbaik Nabi berbeda dalam sistem politiknya, sistem politik mana yang sesuai dengan yang dicontohkan Nabi?.

Lihat Asli : Islam Mengatur Etika Politik, bukan Sistem Politik

Lihat Juga :

Keyword : sejarah politik islam, konsep politik islam, tujuan politik islam, pertanyaan tentang politik islam, politik islam pdf, artikel politik islam, perbedaan politik islam dan politik umum, ceramah tentang politik islam, tujuan politik islam, contoh makalah tentang konsep politik islam, demokrasi dan ham dalam islam, konsep politik ekonomi islam, konsep politik dalam al quran, islam mengatur politik, ceramah tentang politik islam, konsep politik perspektif barat, sejarah politik islam, konsep politik islam, tujuan politik islam, pertanyaan tentang politik islam, politik islam pdf, artikel politik islam, perbedaan politik islam dan politik umum, ceramah tentang politik islam, tujuan politik islam, contoh makalah tentang konsep politik islam, demokrasi dan ham dalam islam, konsep politik ekonomi islam, konsep politik dalam al quran, islam mengatur politik, ceramah tentang politik islam, konsep politik perspektif barat, sejarah politik islam, konsep politik islam, tujuan politik islam, pertanyaan tentang politik islam, politik islam pdf, artikel politik islam, perbedaan politik islam dan politik umum, ceramah tentang politik islam, tujuan politik islam, contoh makalah tentang konsep politik islam, demokrasi dan ham dalam islam, konsep politik ekonomi islam, konsep politik dalam al quran, islam mengatur politik, ceramah tentang politik islam, konsep politik perspektif barat, 

Kamis, 24 Januari 2019

Download Kitab al-Umm Imam asy-Syafi'i Full PDF

Download Kitab al-Umm Imam asy-Syafi'i Full PDF


Silahkan Download Kitabnya di bawah ini.!

Kitab al-Umm Imam asy-Syafi'i

Cover al-Umm Imam asy-Syafi'i
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 1
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 1 (2)
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 2
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 3
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 4
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 5
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 6
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 7
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 8
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 9
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 10
Download

al-Umm Imam asy-Syafi'i Juz 11
Download


Lihat Juga :

Keyword : free download kitab al umm pdf, kitab al umm tentang tahlilan, tokoh yang menyusun kitab al umm, kitab al umm pdf download, kitab imam syafi'i pdf, terjemahan ar risalah imam syafi'i pdf, terjemahan kitab al umm imam syafi i, ringkasan kitab al umm pdf, download kitab fiqih terjemahan pdf, download terjemahan kitab ar risalah pdf, terjemah kitab al umm jilid 1, download terjemahan kitab fiqih 4 mazhab pdf, fiqih imam syafi'i pdf, kitab ar risalah imam syafi i pdf, download kitab ar risalah terjemah indonesia, free download kitab al umm pdf, kitab al umm tentang tahlilan, tokoh yang menyusun kitab al umm, kitab al umm pdf download, kitab imam syafi'i pdf, terjemahan ar risalah imam syafi'i pdf, terjemahan kitab al umm imam syafi i, ringkasan kitab al umm pdf, download kitab fiqih terjemahan pdf, download terjemahan kitab ar risalah pdf, terjemah kitab al umm jilid 1, download terjemahan kitab fiqih 4 mazhab pdf, fiqih imam syafi'i pdf, kitab ar risalah imam syafi i pdf, download kitab ar risalah terjemah indonesia, 

Rabu, 19 September 2018

6 Kriteria Ulama Menurut KH. Sholeh Darat

6 Kriteria Ulama Menurut KH. Sholeh Darat

Gelombang kemajuan media digital di abad ke-21 membuat masyarakat bebas mengakses segala informasi. Termasuk di dalamnya ajaran-ajaran agama yang bisa diperoleh dengan mudah melalui media sosial. Dampaknya, semua orang bisa belajar dengan cepat tentang agama juga bisa dengan cepat menjadi seorang alim yang menyebarkan tentang ajaran agama melalui media sosial.

Video-video pendek ceramah di media sosial para ustadz, dalam hitungan menit bisa diviralkan dan ditonton ribuan orang. Semua ramai-ramai membagikan, tanpa mempedulikan background keilmuan dari figur yang dianggap alim. Belum lagi, isi-isi ceramah yang berhubungan pada kepentingan-kepentingan politik praktis.

Dalam kondisi demikian, kriteria seorang alim yang layak dijadikan guru menjadi terabaikan. Siapapun akan dengan mudah dianggap sebagai ulama tanpa standar-standar kelayakan sebagai seorang pewaris nabi. Di abad ke-19, kiai Sholeh Darat, seorang maha guru para ulama Nusantara, sudah memberikan syarat seseorang dianggap sebagai guru atau alim yang menjadi pengganti para nabi. Ini penting untuk diketengahkan sebagai pertimbangan saat masuk di belantara rimba dunia maya.

Dalam kitab Minhaj al-Atqiya’  kiai Sholeh memberikan syarat seorang guru atau alim sebagai berikut:

Pertama, menguasai ilmu Al-Quran dan Hadis. Modal penting seorang alim dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama tidak cukup hanya sekedar tarjamah dari Al-Quran ataupun hadis. Dengan ilmu Al-Quran dan hadis ini seseorang dianggap memiliki perangkat dalam memahami sumber ajaran Islam dan terlepas dari bahaya pemahaman keagamaan yang cenderung tekstual yang mendasarkan pemahamanya pada terjemahan.

Kedua, menghindari hal-hal yang bersifat duniawi. Seorang alim yang mendidik umat, seyogyanya, apa yang disampaikan dan dilakukan tidak mengarah pada orientasi duniawi semata. Seorang alim yang layak dijadikan guru ialah alim yang menghindari riuh dan gegap gempitanya kedudukan dan jabatan. Alim yang demikian ini masih bisa dijumpai yang mendidik umat dengan tulus di pesantren-pesantren, surau-surau, di pelosok-pelosok desa. Dan yang paling penting, ia tidak meminta jabatan, namun jika dibutuhkan dan diminta untuk mengurus sesuatu, ia siap.

Ketiga, memiliki sanad keilmuan sampai Rasulullah. Tradisi ulama Nusantara sangat memperhatikan betul satu hal ini. Bahkan, kiai Sholeh menuliskan sebuah kitab al-mursyid al-wajiz untuk menjelaskan silsilah rantai keilmuannya. Ini penting dimiliki oleh seorang alim di era dimana rantai keilmuan terabaikan. Tujuannya sederhana, agar pemahaman keagamaan seseorang mendapat rujukan dan pertanggung jawab akademiknya.

Keempat, memiliki akhlak yang terpuji. Dampak negatif lainnya dari era keterbukaan informasi ialah ujaran kebencian dan absennya akhlak dalam menyampaikan ajaran agama. Fitnah, hoax, cacian dan makian muncul hanya karena alasan perbedaan pandangan agama dan politik. Kiai Sholeh menuntun kita agar lebih selektif kepada siapa kita hendak belajar agama dengan melihat akhlaknya dalam menyampaikan ajaran agama dan diantara akhlak yang baik adalah tawadhu’, sikap rendah hati, tidak mudah menyalahkan dan merasa paling benar sendiri.

Kelima, menjauhi penguasa (salathin wa umara’) dan membenci kekuasaan. Seorang alim yang baik ialah alim yang dibutuhkan penguasa, bukan sebaliknya. Hal ini dikarenakan konteks kehidupan kiai Sholeh dalam melihat penjajahan. bagaimana pemerintah kolonial dan penguasa lokal bersekutu melakukan penindasan. Meskipun begitu, seorang alim diperbolehkan mendekat penguasa jika dalam rangka memberi nasihat, melawan kedzaliman, dan menjenguk saat sakit dengan tetap menjaga hati dari tujuan-tujuan yang menarik untuk mencintai kekuasaan.

Keenam, membenci orang-orang yang melakukan penindasan. Syarat orang dianggap sebagai alim ialah kehadirannya dalam barisan masyarakat yang ditindas. Orang alim tidak akan berdiam diri di saat umatnya berjuang sendirian dalam memperjuangkan hak-haknya. Ia akan hadir di tengah diskrimansi atas nama agama. Ia akan bersolidaritas di saat masyarakat sedang dirampas lahan dan ruang hidupnya.

Menurut kiai Sholeh, keenam kriteria ini yang menjadikan seorang alim layak dijadikan panutan sebagai guru. Sebagai orang yang merasakan hidup di era generasi milenial, kriteria ini masih layak dijadikan pegangan untuk menentukan siapa alim yang layak dijadikan panutan atau tidak.

Wallahu a’lam bi as-showab.


Lihat Juga :

Keyword :
siapa yang pantas disebut ulama, kriteria ulama salaf, kriteria ulama yang terpuji, syarat gelar ulama, syarat jadi ulama, apa itu ulama, ciri ciri ulama, ciri ciri ulama dan auliya, siapa yang pantas disebut ulama, kriteria ulama salaf, kriteria ulama yang terpuji, syarat gelar ulama, syarat jadi ulama, apa itu ulama, ciri ciri ulama, ciri ciri ulama dan auliya, Kiai Sholeh Darat, Kiai Sholeh Darat

Selasa, 18 September 2018

Hukum dan Cara Membayar Hutang Puasa Tahun Lalu

Hukum dan Cara Membayar Hutang Puasa Tahun Lalu

Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online. Saya mau bertanya. Hal ini dialami istri saya. Ia pada Ramadhan lalu membatalkan puasa beberapa hari karena datang bulan. Tetapi hingga Ramadhan tahun ini tiba, ada beberapa hari yang belum sempat diqadha olehnya. Pertanyaan saya, apa konsekuensinya bila seseorang telat mengqadha puasa wajib hingga Ramadhan tahun depan tiba? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Fatahillah, Cianjur).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman di mana pun berada, semoga Allah menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Allah ta‘ala mewajibkan puasa bagi setiap orang yang memenuhi syarat puasa. Mereka yang terlanjur membatalkan puasanya di bulan Ramadhan karena sakit dan lain hal, harus mengganti di bulan yang lain.

Adapun orang yang membatalkan puasanya demi orang lain seperti ibu menyusui atau ibu hami; dan orang yang menunda qadha puasanya karena kelalaian hingga Ramadhan tahun berikutnya tiba mendapat beban tambahan. Keduanya diwajibkan membayar fidyah di samping mengqadha puasa yang pernah ditinggalkannya.

والثاني الإفطار مع تأخير قضاء) شىء من رمضان (مع إمكانه حتى يأتي رمضان آخر) لخبر من أدرك رمضان فأفطر لمرض ثم صح ولم يقضه حتى أدركه رمضان آخر صام الذي أدركه ثم يقضي ما عليه ثم يطعم عن كل يوم مسكينا رواه الدارقطني والبيهقي فخرج بالإمكان من استمر به السفر أو المرض حتى أتى رمضان آخر أو أخر لنسيان أو جهل بحرمة التأخير. وإن كان مخالطا للعلماء لخفاء ذلك لا بالفدية فلا يعذر لجهله بها نظير من علم حرمة التنحنح وجهل البطلان به. واعلم أن الفدية تتكر بتكرر السنين وتستقر في ذمة من لزمته.

Artinya, “(Kedua [yang wajib qadha dan fidyah] adalah ketiadaan puasa dengan menunda qadha) puasa Ramadhan (padahal memiliki kesempatan hingga Ramadhan berikutnya tiba) didasarkan pada hadits, ‘Siapa saja mengalami Ramadhan, lalu tidak berpuasa karena sakit, kemudian sehat kembali dan belum mengqadhanya hingga Ramadhan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan puasa Ramadhan yang sedang dijalaninya, setelah itu mengqadha utang puasanya dan memberikan makan kepada seorang miskin satu hari yang ditinggalkan sebagai kaffarah,HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi.

Di luar kategori ‘memiliki kesempatan’ adalah orang yang senantiasa bersafari (seperti pelaut), orang sakit hingga Ramadhan berikutnya tiba, orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha. Tetapi kalau ia hidup membaur dengan ulama karena samarnya masalah itu tanpa fidyah, maka ketidaktahuannya atas keharaman penundaan qadha bukan termasuk uzur. Alasan seperti ini tak bisa diterima; sama halnya dengan orang yang mengetahui keharaman berdehem (saat shalat), tetapi tidak tahu batal shalat karenanya. Asal tahu, beban fidyah itu terus muncul seiring pergantian tahun dan tetap menjadi tanggungan orang yang yang berutang (sebelum dilunasi),” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan, tanpa tahun, halaman 114).

Dari keterangan Syekh Nawawi Banten ini, kita dapat melihat apakah ketidaksempatan qadha puasa hingga Ramadhan berikutnya tiba disebabkan karena sakit, lupa, atau memang kelalaian menunda-tunda. Kalau disebabkan karena kelalaian, tentu yang bersangkutan wajib mengqadha dan juga membayar fidyah sebesar satu mud untuk satu hari utang puasanya.

Sebagaimana diketahui, satu mud setara dengan 543 gram menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sementara menurut Hanafiyah, satu mud seukuran dengan 815,39 gram bahan makanan pokok seperti beras dan gandum.

Demikian jawaban yang dapat kami terangkan. Semoga jawaban ini bisa dipahami dengan baik. Kami selalu membuka kritik, saran, dan masukan.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



Lihat Juga :

Keyword :
cara membayar hutang puasa tahun lalu, tata cara membayar hutang puasa ramadhan, batas waktu mengganti puasa ramadhan, hukum membayar hutang puasa ramadhan bagi wanita, hutang puasa bertahun tahun, cara membayar hutang puasa ramadhan karena haid, membayar hutang puasa ramadhan dengan fidyah, hari yang diperbolehkan untuk mengganti puasa ramadhan

Jumat, 22 Juni 2018

Islam itu Agama - Nusantara itu Budaya

Islam itu Agama - Nusantara itu Budaya

Apa Itu Islam Nusantara.?


Islam itu Agama - Nusantara itu Budaya

Islam Nusantara itu adalah Islam yang diwarnai Budaya Nusantara. Misalnya Saya sholat pake sarung, pake peci, budaya sarungan itu adat Nusantara, bahkan "sholat" saja di sebut "Sembahyang" yang menggunakan bahasa yang bukan dari Nash Islam sendiri.

Jika yang dimaksudkan Islam Nusantara itu adalah Ajaran Nusantara, seperti Nyiroro Kidul, Nyi Blorong, SAYA MENOLAKNYA. Tapi jika yang dimaksudkan dari Islam Nusantara itu adalah Islam yang diwarnai corak budaya, saya mendukungnya karena tidak bertentangan degan Syari'at.

Karena Islam Nusantara itu hasil dari Muktamar NU ke-33 di Jombang, maka saya sarankan untuk ditabayyunkan dengan tokoh yang memahami hasil muktamar NU ke-33 tersebut.
NU sendiri Bermadzhab Aqidah Asy'Ariah, Madzhab Fiqih : Imam Syafi'i, dan Tasawwuf : Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi. Dengan 4 Prinsip ; Tawasuth (Pertengahan), Tawazun (Seimbang), I'tidal (Bersikap Adil), dan Tasamuh (Toleransi).

Hasil Muktamar NU : ISLAM NUSANTARA.
Hasil Muktamar Muhammadiyah : ISLAM BERKEMAJUAN.
Hasil Muktamar MUI : ISLAM WASHATIYAH.

Wallahu'Alam Bishawwab

Lihat Sebelumnya :
Sikap Habib Ali Al-Jufri Terhadap Yahudi dan Nasrani
Nasihat Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz
5 Macam Kriteria Kyai Menurut Habib Luthfi Bin Yahya

Senin, 18 Juni 2018

Sikap Habib Ali Al-Jufri Terhadap Yahudi dan Nasrani


Sikap Habib Ali Al-Jufri Terhadap Yahudi dan Nasrani


Saya mencintai seorang Muslim, meskipun ia berselisih pendapat dgn saya dalam masalah agama, walaupun ia mengkafirkan saya, walaupun ia menghalalkan darahku, walaupun ia tampakkan kebencian di hadapan saya, saya tetap mencintainya. Saya benci akhlaknya, tapi saya mencintainya. Di dlm dirinya ada cahaya La Ilaha illallah. Dia dinisbatkan kpd Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam. karena dia bagian dari ummatnya
.
Begitupula, saya mencintai non-Muslim. Nasrani? Ya, saya mencintai orang Nasrani (Kristen). Bahkan lebih dari itu, saya mencintai (orang) Yahudi. Saya benci penjajah dgn jajahannya di sana, yakni Zionis yg menghalalkan tanah dan harga diri saya, dan saya siap memeranginya tapi hati saya menginginkan hidayah untuknya dan ingin ia kembali kpd kebenaran. Tapi tdk, saya tdk membenci Yahudi karena dia Yahudi (ke-Yahudiaannya). Dia membenciku, Allah mengajarkan saya (dlm al-Quran) bhw ia (Yahudi) akan mjd orang yg paling memusuhiku dan kenyataan mjd saksinya. Tapi saya cinta kpd orang Nasrani, Yahudi, Budha, dan (bahkan) Atheis
.
Saya benci kekafiran seorang kafir, tapi tdk benci kpd orangnya. Saya benci kemaksiatan pendosa, tapi saya tdk benci sosoknya. Saya siap mengekspos hal ini dan bertukar pikiran dgn para ulama dari golongan yg memandang ucapan saya tdk benar. Saya akan cium tangan mereka tapi saya berbeda pendapat dgn mereka dlm hal ini. Ini yg saya pelajari. Ini yg saya pelajari dari akhlak Rasulullah. Ta’dzim terhadap karunia Allah Swt. atas seseorang (manusia, sebagaimana firmanNya): 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Kami telah memuliakan anak-anak Adam.” (QS. al-Isra’ ayat 70). (Pernah terjadi) jenazah seorang Yahudi sedang lewat di hadapan Rasulullah. Lalu beliau berdiri. (Salah seorang sahbat berkata): “Ya Rasullah, itu adalah jenazah seorang yahudi.” 

أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟

Jawab Rasulullah : “Bukankah ia (juga) seorang manusia?” Sebagaimana dlm hadits shahih, beliau. mengajarkan kpd kita adab yg tinggi ini

Baik, apa makna dakwah jika kosong dari makna cinta? Dakwah adalah keinginan menyampaikan hidayah. Bukankah demikian? Hidayah utk pendosa,

hidayah utk orang kafir agar masuk Islam. Lalu Anda ingin mengajarkan saya bahwa dakwah adalah secara rasio (dengan pemikiran) yg benar dan lurus secara ruh dan akal agar saya berkata, “Saya benci dan tdk suka kepadamu karena Allah dan saya mengajakmu utk masuk Islam! Saya benci kepadamu dan marilah masuk Islam! Agama saya menyuruh saya membencimu dan saya nasihati Anda agar masuk ke agama ini yg telah menyuruh saya membencimu”. Bagaimana mungkin ini benar!?Agama saya mengajarkan saya agar saya membenci kebatilan yg ada padamu, bukan membenci sosokmu. Pemahaman-pemahaman ini dulu di diri para (ulama) salaf kita adalah demikian. Itu hasil dari didikan, bahkan mereka tdk perlu menjadikannya kurikulum di kitab-kitab. Karena dulu mereka menjalaninya di dlm kehidupan mereka. Bahkan ketika mereka mengangkat senjata utk menjalankan kewajiban jihad yg suci dlm peperangan menghadapi musuh yg menjajah. Dulu pandangan mereka dalam memerangi musuh adalah karena terdesak sebab didzalimi atau sebab tdk diberikannya hak orang-orang dlm Islam, karena mereka masuk Islam dgn kehendak mereka sendiri. Bersamaan dengan itu mereka mengharapkan hidayah utk musuh, bukan perang.

Nabi Saw. pernah berdiri di hadapan seorang wanita yg memegang senjata bersama orang-orang kafir yg dzalim yg memerangi Muslimin. Lalu wanita itu ikut berperang dan terbunuh. Lalu Nabi berdiri di depan mayatnya setelah usai perang, dan beliau tersentuh serta kecewa. Nampak kekecewaan beliau, lalu berkata:

ماَ كَانَ لِهَذِهِ أَنْ تُقَاتِلَ فَتُقْتَلُ

“Tidak seharusnya wanita ini ikut berperang lalu terbunuh.” Rasulullah. ajarkan makna ini. Beliau mengajari kita bhw pada asalnya adalah keinginan kesejahteraan dan keselamatan utk umat manusia, bukan peperangan. Dan bahwa perang adalah keadaan darurat untuk menjaga kehidupan dgn maknanya yang lebih besar. (*IBJ, ditranskrip dari video ceramah Habib Ali al-Jufri: https://www.youtube.com/watch?v=B9OU0vhlWXo

Lihat Juga :
10 Nasihat Sunan Kalijaga (DASA PITUTUR)
Nasihat Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz
5 Macam Kriteria Kyai Menurut Habib Luthfi Bin Yahya

Kamis, 07 Juni 2018

10 Nasihat Sunan Kalijaga (DASA PITUTUR)

 10 Nasihat Sunan Kalijaga (DASA PITUTUR)

10 Nasihat Sunan Kalijaga (DASA PITUTUR)


1. Urip Iku Urup.
Hidup itu Nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.
2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara.
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
4. Ngluruk tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake, Sekti tanpa Aji-Aji, Sugih tanpa Bandha.
Berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kekuasaan, keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan.
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan.
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri! Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu!
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman.
Jangan mudah terheran-heran! Jangan mudah menyesal! Jangan mudah terkejut-kejut! Jangan mudah kolokan atau manja!
7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman.
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi!
8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka.
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah! Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka!
9. Aja Milik Barang kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendho.
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah! Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat!
10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti!

Terima Kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat.

Lihat Juga :
Nasihat Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz
5 Macam Kriteria Kyai Menurut Habib Luthfi Bin Yahya

Minggu, 15 April 2018

Nasihat Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz


HABIB NABIL BIN FUAD ALMUSAWA berkata:

Anak-anakku, saudara-saudara sekalian…..

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan Guru dari sayyidul alhabibana Munzir sudah menyampaikan kepada kita satu amanat yang amanah ini alwalid Habib Muhsin Alhamid meminta kepada saya untuk menyampaikan kepada sekalian yang hadir di sini, amanah itu adalah :

Sepanjang Sayyid Muhammad bin Munzir belum bisa menggantikan almarhum Allahyarham Habib Munzir Hafidzahullah rahimahullah maka habibana Umar bin Hafidz memberikan amanah itu kepada Alhabib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan.

Jadi insyaAllah majelis ini mulai hari ini dan seterusnya yang akan membacakan di depan yang akan menyampaikan ilmu adalah habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan, itu amanah Habib Umar bin Hafidz.

Oleh karena itu maka kita hendaknya taat mendengar, sami’na waatha’na kita mendengar dan taat karena ketaatan itu akan bermanfaat bagi kita di dunia maupun di akhirat.

Jangan ada hal-hal yang setelah hari ini kemudian menjadikan hal yang tidak baik. Semua yang ditunjuk oleh habibana umar bin hafidz itulah yang terbaik bagi kita insyaAllah karena beliau adalah guru Habibana Munzir rahimahullah.

Kita mencari ridho Allah bukan mencari ridho manusia. Oleh karena itu saya menasehati diri saya sendiri dan diri semua yang hadir.

Mari mulai saat ini kita melanjutkan bendera Rasulullah SAW bendera Majelis Rasulullah Saw karena bendera ini tidak pernah padam sampai kiamat InsyaAllah.

ALMUNAWWAR, Majelis Rasulullah Saw (SENIN 9 DESEMBER 2013/ 7 Shafar 1434 H)



Putra Habib Munzir Bin Fuad Bin Musawwa (Sayyid Muhammad bin Munzir Al-Musawwa)


Source : Antontasik.com

5 MACAM KRITERIA KYAI MENURUT HABIB LUTHFI BIN YAHYA

5 MACAM KRITERIA KYAI MENURUT HABIB LUTHFI BIN YAHYA

5 MACAM KRITERIA KYAI MENURUT HABIB LUTHFI BIN YAHYA 

  1. Kyai TANDUR: Kyai yang sukanya ngasuh pondok pesantren, ngopeni para santri. 
  2. Kyai CATUR: Kyai yang suka terjun ke dunia politik. 
  3. Kyai TUTUR: Kyai yang sukanya berdakwah ditengah masyarakat luas, biasa disebut juga Mubaligh, Da'i.
  4. Kyai SEMBUR: Kyai yang biasa jadi rujukan orang berkonsultasi, ahli Suwuk, ahli Hikmah.
  5. Kyai WUWUR: Kyai yang menjadi rujukan hukum oleh para kyai lainnya, Ahli Fatwa, Pengayom Umat, biasa juga disebut Kyai Khos.


Wallahu A'lam Bish-shawab... [ Habib Luthfi bin Yahya ]


Artikel Sebelumnya :

Source : Antontasik.com

Pesan Penting Habib Ali Al-jufri Untuk Putra Putri Indonesia

Pesan Penting Habib Ali Al-jufri Untuk Putra Putri Indonesia

Pesan Penting Habib Ali Aljufriuntuk Putra Putri Indonesia

Acara Majelis Ta'lim bersama Habib Ali Al-Jufri berjalan sukses.

Ucapan dan pesan Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri untuk kita warga Indonesia adalah :

JAGA Negerimu jangan sampai terpecah belah seperti Negeri kami di timur tengah, jangan mudah tertipu dengan orang yang bersorban tapi hobi memprovokasi dan memecah belah, mereka yang mengatasnamakan Islam tapi membantai manusia, mereka yang mengatasnamakan jihad tapi mencuri hak warga, mereka yang mengaku bela Islam tapi berpotensi menghancurkan negerimu, semua itu adalah penipu yang mengatasnamakan agama.

Di negeri kami merekalah yang menghancurkan dan meluluh lantaakkan kota-kota kami dengan dalih bela agama, bela hak rakyat dan bela demokrasi, namun nyatanya kehancuran dan ribuan nyawa menghilang mereka tidak peduli.

JAGA NEGERIMU.

Tanggerang. Jum'at 13 April 2018.



Keyword : karomah habib ali al jufri, habib ali al jufri sesat, istri habib ali al jufri, habib ali al jufri dan habib umar bin hafidz, habib ali al jufri keturunan rasulullah, habib ali al jufri mirip rasulullah, biografi habib ali al jufri, kata mutiara habib ali al jufri

Source : Antontasik.com

Kamis, 12 April 2018

Kitab Suci Itu Fiksi atau Non Fiksi.?

Kitab Suci Itu Fiksi atau Non Fiksi.?

Kitab Suci Itu Fiksi atau Non Fiksi.?

Seseorang yang mengeluarkan Opini acap kali harus berurusan dengan Polisi, begitu kan.?

Terkhusus dengan sebuah Opini yang menimbulkan gesekan antar umat beragama atau yang berkaitan dengan unsur Theologis tertentu. Misalnya, ada beberapa kasus yang langsung di laporkan dengan pasal penistaan terhadap agama, dan itu terjadi berulang-ulang.

Negara Indonesia adalah Negara Hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang pastinya jauh berbeda jika harus dikaitkan dengan sistem Liberalisme Inggris. Jadi wajar jika kultur di Indonesia tidak sebebas di Inggris.

Inggris sendiri adalah Negara yang bisa dikatakan baru saja bebas dari kekangan doktrin Agama di abad pertengahan. Dan ini adalah salah satu sejarah paling mematikan yang pernah tercatat dalam Sejarah Eropa. Peristiwa sejarah tersebut dikenal dengan ‘Death By Burning’, hukuman mati bagi mereka yang bertentangan dengan gereja. Hukuman mati dengan cara disalib dan dibakar hidup hidup adalah tontonan biasa di Negeri tersebut kala itu.

salah satu tokoh yang bisa dianggap terkekang dengan doktrin agama adalah Galileo. Pada masa itu dia bisa membuktikan bahwa ucapan Copernicus jika bumi mengelilingi matahari. Dan pastinya pada saat itu juga Gereja meminta dirinya untuk mencabut teorinya tersebut, hingga waktu membuktikan bahwa teori Galileo tersebut bisa dibuktikan dan doktri gereja masih bisa salah. Pada masa itu peradaban opini belum bebas dan jika bertentangan dengan doktrin gereja adalah dosa besar.

Selepas ratusan tahun kemudian, semuanya pun berubah. Teori yang dulu dikeluarkan bisa menyebabkan kematian, dan bisa dikeluarkan dengan tenang di media masa. Semua orang diperbolehkan beropini. Media masa disana sudah biasa mengatakan jika ‘Bibel adalah fiksi’. Mungkin jika di Indonesia sebebas Inggris, maka ucapan Rocky Gerung tentang ‘Kitab Suci itu Fiksi’, atau ucapan Sukmawati tentang ‘Konde lebih Indah dari Pada Cadar’ dan ‘Kidung Ibu lebih Indah dari Adzan’, itu tidak akan pernah dipermasalahkan, toh itu hanya Opini, tidak perlu semua setuju.

Begitulah kira-kira jika Indonesia menjadi Negara berdemokrasi liberal.

Dalam menyikapi ‘Kitab Suci itu Fiksi’ Rocky Gerung, sudah banyak pendapat Pro dan Kontra. Namun, jika ditanyakan kepada Ahli Agama dan ahli bahasa sekalipun, jelas itu adalah salah, karena FIKSI dan Wahyu itu berbeda.

Pahamilah jika Fiksi, Faksi maupun non Fiksi hanya berlaku bagi Sastra. Karya manusia. Kecuali jika anda sudah mulai berpikir bahwa kandungan Al-Qur’an adalah imajinasi buatan manusia. Bukan lagi Firman dan Wahyu dari Tuhan.

Fiksi dan Fiktif itu memang berbeda, namun Fiksi dan Fiktif memiliki lawan kata yang sama, yaitu Real/Nyata/Ilmiah. Maka jika dikatakan “Kitab Suci itu Fiksi”, maka sama halnya dengan berkata, “Kitab suci itu tidak Real/Nyata/Ilmiah”.

Jika dipahami “Fiksi” itu mengandung sesuatu yang baik, maka “sebaik-baiknya Fiksi” tetaplah tidak Real/Nyata/Ilmiah. Dan tentunya itu jauh berbeda dengan kesucian kitab suci yang diyakini seseorang yang yakin dengan kitab sucinya. Kecuali jika memiliki kepercayaan bahwa kitab sucinya bukan lagi wahyu.

Jika kalimat Rocky Gerung dipahami ; “Kitab suci mengandung unsur fiksi, yakni narasi tentang Imajinasi di masa depan”, maka dapat disimpulkan bahwa kitab suci mengandung unsur yang mengatakan bahwa masa depan itu sastra/ hayalan, belum tentu terjadi. Dan jika kitab suci berunsur fiksi, apakah kisah para Nabi dan kaum yang Allah binasakan dalam Al-Qur’an bukan hasil Imajinasi.?. Jika dikatakan “Narasi tentang Imajinasi di Masa depan”, apakah Surga, Neraka, atau Alam selepas hidup itu adalah fiksi dan hayalan.?.

Menjauhi perdebatan kuno di sosial media, penulis ingin menyatakan bahwa di Jaman Rasulullah pun banyak orang yang mengatakan bahwa ‘Al-Qur’an itu Sastra’, jika hanya menilai dari unsur bahasa dan penulisan saja, pasti kita setujui pendapat Kafir Quraisy karena Al-Qur’an memang menggunakan bahasa paling Indah. Namun, apakah kita mau mengatakan ‘Al-Qur’an itu Sastra.?’. Begitu juga dengan ‘Kitab suci itu Fiksi’. Jangan hanya karena ada kalimat dalam Al-Qur;an yang belum terjadi dan pasti terjadi, lalu berani dikatakan ‘Kitab suci itu Fiksi’.

Intinya, semua orang pun bebas menyampaikan Opini dan tentu harus disertai dengan Argumentasi. Saat berbeda pendapat, tidak lantas mencaci maki dan saling menyalahkan terlalu berlebihan.  Saya sangat menyayangkan jika beberapa Ekspresi Pemikiran baik dalam Seni Sastra maupun Seni Berpikir (Filsafat) harus berakhir di pelaporan. Apalagi hanya karena berbeda pandangan soal politik dan beda partai, lalu dibela hanya karena sependapat tentang pandangan politiknya saja.

Bebas saja. Itu kembali kepada diri kita masing-masing. Berpikir dan berdemokrasilah dengan sehat. Adil lah dalam berpikir. Karena kepentingan kita sama, yaitu sama-sama ingin memperbaiki peradaban.

Sedikit dari kata-kata hikmah Gusdur ; “yang sama jangan dibeda-bedakan, dan yang sudah beda tak perlu dipaksakan harus tetap sama.”.



Ingat.! Kita harus perhatikan bahwa siapa yang berbicara.? Apa Keilmuannya.? Apa kitabnya.?. Rocky Gerung itu seorang non muslim (Kristen/katholik), yang dibaca pastinya adalah Bibel. Maka disimpulkan jika Rocky Gerung mengatakan 'Kitab Suci itu Fiksi' adalah untuk kitab sucinya sendiri. Karena jika dia mengaitkan dengan Al-Qur'an, maka ini tidak mungkin.

Fiksi, Faksi maupun non Fiksi hanya berlaku bagi Sastra. Karya manusia. Kecuali jika anda sudah mulai berpikir bahwa kandungan Al-Qur’an adalah imajinasi buatan manusia. Bukan lagi Firman dan Wahyu dari Tuhan.

Artikel Sebelumnya :

Source : Antontasik.com

Kitab Suci Itu Fiksi.? (Dijawab oleh : Gus Hasan)

Kitab Suci Itu Fiksi.? (Dijawab oleh : Gus Hasan)

Kitab Suci Itu Fiksi.? (Dijawab oleh : Gus Hasan)

Al-Qur’an sebagai kitab sucinya umat Islam itu bukan fiksi. Al-Qur’an adalah firman Allah yang tidak ada keraguan di dalamnya dan wajib diimani kebenarannya.  Demikian ditegaskan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah, menanggapi polemik yang ditimbulkan oleh ucapan dosen Universitas Indonesdia Rocky Gerung di sebuah acara televisi.

Lihat Juga : Penistaan Adzan di Masa Rasulullah S.A.W

“Umat Islam tidak hanya wajib beriman kepada kitab suci Al-Qur’an saja tetapi juga harus mengimani kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Injil, Zabur dan Taurat,” ujar Pengasuh Pesantren Ash-Shiddiqiyah Karawang itu. “Dan semuanya itu adalah kitab suci, bukan fiksi. Ungkapan bahwa kitab suci itu fiksi adalah ucapan yang ceroboh dan menantang, karena kewahyuan Al-Qur’an tidak terbantahkan,” lanjutnya.

Gus Hasan berharap pengelola televisi, lebih bijak lagi dalam memilih narasumber dan topik mana yang bisa mendidik sekaligus menyejukkan untuk masyarakat Indonesia yang majemuk.

“Saya mengerti ada urusan rating dan iklan dalam hal ini. Tetapi alangkah baiknya jika kita selalu mencari rejeki yang halal, bukan rejeki yang diraup dari keberhasilan membuat keresahan umat.”

Gus Hasan juga mengingatkan agar para tokoh yang mendapatkan panggung di media-media nasional, lebih berhati-hati dan bijaksana dalam mengeluarkan pendapat. Mereka sebaiknya menyampaikan ungkapan dan pendapat yang tidak menyinggung perasaan masyarakat.

“Saya menghargai kebebasan berpendapat, tetapi akan lebih baik jika Rocky Gerung mau mengklarifikasi ucapanya dan meminta maaf atas terjadinya keresahan umat akibat ucapannya. Orang pintar itu akan lebih mulia jika kepintaranya dihiasi dengan sikap yang bijaksana,” pungkas Gus Hasan.

(Iip Yahya)

Lihat Asli : Gus Hasan: Kitab Suci itu bukan Fiksi

Keyword : kitab suci hindu dan budha, apa kitab suci agama buddha, injil kitab suci agama, kitab suci kristen dan katolik, jumlah kitab suci, pengertian kitab suci menurut agama islam, daftar kitab suci katolik, nama pemimpin agama khonghucu dan kitab suci, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi, Kitab Suci Itu Fiksi,

Source : Antontasik.com

Selasa, 10 April 2018

Penistaan Adzan di Masa Rasulullah S.A.W

Penistaan Adzan di Masa Rasulullah S.A.W

Pesnitaan Adzan di Masa Rasulullah S.A.W

Sempat terdengar jelas sebuah berita Puisi yang menjadi Viral yang berjudul 'Ibu Indonesia' yang dibacakan oleh Sukmawati Sukarno Putri pada acara '29 Tahun Anne Avantie Berkarya' dalam acara Indonesia Fashion Week (IFW) 2018. Puisi tersebut menjadi kontrofersi karena dianggap telah menistakan Agama, lebih tepatnya menistakan Cadar dan Adzan. Reaksipun banyak bermunculan, kecaman dari Ormas pun tak tanggung menyerang dan surat pelaporan ke Polri pun ikut dilayangkan karena sebagian dari mereka tidak menerima jika terkhususnya Adzan sebagai Panggilan Waktu Sholat bagi Umat Muslim tersebut dihina oleh Puisi 'Ibu Indonesia' tersebut.

Tak lama kemudian, Puisi karya GUSMUS (KH. Musthofa Bisri) yng dibacakan oleh Ganjar Pranowo yang berjudul 'Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana' menjadi Viral. Dan pada akhirnya banyak sekali kecaman kepada Gubernur Jawa Tengah tersebut. Namun pada akhirnya mereka yang mengecam hal tersebut (terkhusunya di Media Sosial) meminta maaf karena tidak mengetahui jika Puisi tersebut dibuat oleh Seorang Ulama. Mereka pun melakukan mediasi permintaan maaf kepada Gusmus dan kepada ormas Nahdlatul Ulama.

Untuk menyikapi hal tersebut, Penulis akan memberikan sebuah riwayat tentang Pesnitaan Adzan di Masa Rasulullah S.A.W.

Penistaan Adzan di Masa Rasulullah S.A.W


Namanya adalah Aus bin Mughirah al-Jumahi. Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan di Mekah sekembalinya beliau dari Hunain.

Ketika Mekah berhasil ditaklukkan kaum muslimin, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dari atas Ka’bah. Sebagian pemuda Quraisy, yang masih belum lapang dada menerima Islam, menirukan suara Bilal. Mereka marah dan bermaksud mengejeknya. Sampai salah seorang pemuda yang bernama Abu Mahdzurah al-Jumahi pun meniru-niru adzan Bilal.

Abu Mahdzurah, pemuda 16 tahun, termasuk orang Quraisy yang paling merdu suaranya. Saat ia mengangkat suara mengumandangkan adzan dengan maksud ejekan, Rasulullah ﷺ mendengarnya. Nabi memanggilnya dan mendudukkannya di hadapan beliau. Abu Mahdzurah menyangka inilah akhir riwayat hidupnya karena ulahnya itu. Tapi, Rasulullah ﷺ malah mengusap dada dan ubun-ubun pemuda itu dengan tangan beliau yang mulia. 

Abu Mahdzurah mengatakan, “Demi Allah, hatiku terasa dipenuhi keimanan dan keyakinan. Dan aku meyakini bahwa ia adalah utusan Allah.” (as-Suhaili dalam ar-Raudh al-Unfu Juz: 7 Hal: 239). Setelah Abu Mahdzurah beriman, Rasulullah ﷺ mengajarinya adzan. 

Jadilah ia orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekah menuju Madinah. Ia terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi’i.

Diceritakan bahwa Abu Mahdzurah setelah dibelai rambutnya oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, ia tidak pernah mencukur rambutnya seraya berkata : “Demi Allah saya tidak akan pernah mencukur rambut saya ini sampai akhir hayat”.

Wallahu'alam..

Solawat Aishwa Nahla Feat Ummi - Hasbi Robbi Jalallah



Kata Kunci : kasus agama terbaru, pencemaran agama islam, kasus agama di indonesia, pelecehan agama islam, berita agama 2017, pelecehan adzan, penistaan agama, puisi sukmawati, puisi sukmawati, puisi sukmawati, demo sukmawati, penistaan adzan

Source : Antontasik.com