Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2018

6 Kriteria Ulama Menurut KH. Sholeh Darat

6 Kriteria Ulama Menurut KH. Sholeh Darat

Gelombang kemajuan media digital di abad ke-21 membuat masyarakat bebas mengakses segala informasi. Termasuk di dalamnya ajaran-ajaran agama yang bisa diperoleh dengan mudah melalui media sosial. Dampaknya, semua orang bisa belajar dengan cepat tentang agama juga bisa dengan cepat menjadi seorang alim yang menyebarkan tentang ajaran agama melalui media sosial.

Video-video pendek ceramah di media sosial para ustadz, dalam hitungan menit bisa diviralkan dan ditonton ribuan orang. Semua ramai-ramai membagikan, tanpa mempedulikan background keilmuan dari figur yang dianggap alim. Belum lagi, isi-isi ceramah yang berhubungan pada kepentingan-kepentingan politik praktis.

Dalam kondisi demikian, kriteria seorang alim yang layak dijadikan guru menjadi terabaikan. Siapapun akan dengan mudah dianggap sebagai ulama tanpa standar-standar kelayakan sebagai seorang pewaris nabi. Di abad ke-19, kiai Sholeh Darat, seorang maha guru para ulama Nusantara, sudah memberikan syarat seseorang dianggap sebagai guru atau alim yang menjadi pengganti para nabi. Ini penting untuk diketengahkan sebagai pertimbangan saat masuk di belantara rimba dunia maya.

Dalam kitab Minhaj al-Atqiya’  kiai Sholeh memberikan syarat seorang guru atau alim sebagai berikut:

Pertama, menguasai ilmu Al-Quran dan Hadis. Modal penting seorang alim dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama tidak cukup hanya sekedar tarjamah dari Al-Quran ataupun hadis. Dengan ilmu Al-Quran dan hadis ini seseorang dianggap memiliki perangkat dalam memahami sumber ajaran Islam dan terlepas dari bahaya pemahaman keagamaan yang cenderung tekstual yang mendasarkan pemahamanya pada terjemahan.

Kedua, menghindari hal-hal yang bersifat duniawi. Seorang alim yang mendidik umat, seyogyanya, apa yang disampaikan dan dilakukan tidak mengarah pada orientasi duniawi semata. Seorang alim yang layak dijadikan guru ialah alim yang menghindari riuh dan gegap gempitanya kedudukan dan jabatan. Alim yang demikian ini masih bisa dijumpai yang mendidik umat dengan tulus di pesantren-pesantren, surau-surau, di pelosok-pelosok desa. Dan yang paling penting, ia tidak meminta jabatan, namun jika dibutuhkan dan diminta untuk mengurus sesuatu, ia siap.

Ketiga, memiliki sanad keilmuan sampai Rasulullah. Tradisi ulama Nusantara sangat memperhatikan betul satu hal ini. Bahkan, kiai Sholeh menuliskan sebuah kitab al-mursyid al-wajiz untuk menjelaskan silsilah rantai keilmuannya. Ini penting dimiliki oleh seorang alim di era dimana rantai keilmuan terabaikan. Tujuannya sederhana, agar pemahaman keagamaan seseorang mendapat rujukan dan pertanggung jawab akademiknya.

Keempat, memiliki akhlak yang terpuji. Dampak negatif lainnya dari era keterbukaan informasi ialah ujaran kebencian dan absennya akhlak dalam menyampaikan ajaran agama. Fitnah, hoax, cacian dan makian muncul hanya karena alasan perbedaan pandangan agama dan politik. Kiai Sholeh menuntun kita agar lebih selektif kepada siapa kita hendak belajar agama dengan melihat akhlaknya dalam menyampaikan ajaran agama dan diantara akhlak yang baik adalah tawadhu’, sikap rendah hati, tidak mudah menyalahkan dan merasa paling benar sendiri.

Kelima, menjauhi penguasa (salathin wa umara’) dan membenci kekuasaan. Seorang alim yang baik ialah alim yang dibutuhkan penguasa, bukan sebaliknya. Hal ini dikarenakan konteks kehidupan kiai Sholeh dalam melihat penjajahan. bagaimana pemerintah kolonial dan penguasa lokal bersekutu melakukan penindasan. Meskipun begitu, seorang alim diperbolehkan mendekat penguasa jika dalam rangka memberi nasihat, melawan kedzaliman, dan menjenguk saat sakit dengan tetap menjaga hati dari tujuan-tujuan yang menarik untuk mencintai kekuasaan.

Keenam, membenci orang-orang yang melakukan penindasan. Syarat orang dianggap sebagai alim ialah kehadirannya dalam barisan masyarakat yang ditindas. Orang alim tidak akan berdiam diri di saat umatnya berjuang sendirian dalam memperjuangkan hak-haknya. Ia akan hadir di tengah diskrimansi atas nama agama. Ia akan bersolidaritas di saat masyarakat sedang dirampas lahan dan ruang hidupnya.

Menurut kiai Sholeh, keenam kriteria ini yang menjadikan seorang alim layak dijadikan panutan sebagai guru. Sebagai orang yang merasakan hidup di era generasi milenial, kriteria ini masih layak dijadikan pegangan untuk menentukan siapa alim yang layak dijadikan panutan atau tidak.

Wallahu a’lam bi as-showab.


Lihat Juga :

Keyword :
siapa yang pantas disebut ulama, kriteria ulama salaf, kriteria ulama yang terpuji, syarat gelar ulama, syarat jadi ulama, apa itu ulama, ciri ciri ulama, ciri ciri ulama dan auliya, siapa yang pantas disebut ulama, kriteria ulama salaf, kriteria ulama yang terpuji, syarat gelar ulama, syarat jadi ulama, apa itu ulama, ciri ciri ulama, ciri ciri ulama dan auliya, Kiai Sholeh Darat, Kiai Sholeh Darat

Selasa, 18 September 2018

Islam Itu Moderat - GUSMUS

Islam Itu Moderat - Gusmus

Islam pada dasarnya adalah gagasan yang moderat. Jadi kalau tidak moderat, maka itu bukanlah Islam. Demikian disampaikan Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri dalam sebuah acara Mata Najwa di Masjid Bayt Alquran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis (11/05/2017).

“Moderat itulah Islam. Jadi bukan Islam moderat. Islam itu memang moderat. Jangan Islam moderat, lalu Islam apalagi. Kalau tidak moderat, tidak Islam,” kata kiai akrab disapa Gus Mus itu.

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini mengatakan bahwa Allah SWT melarang segala sesuatu yang berlebih sebagaimana yang tertera dalam Alquran. Bahkan, Nabi Muhammad mengatakan, sebaik-baiknya sesuatu adalah yang di tengah-tengah. “Semua yang ekstrem-ekstrem itu dilarang di Qur’an, wa la tusrifu (jangan berlebih-lebihan),” jelasnya. 

Namun permasalahannya, saat ini baik yang ekstrem kanan maupun kiri juga mengaku yang moderat. Terkait hal itu, Gus Mus mengumpamakan moderat itu dengan mengukur kedalaman air di sungai. Standar ukurannya bukan dengan menggunakan tubuh sendiri-sendiri.

“Jangan pakai tubuh (untuk mengukur kedalaman air di sungai). Kalau kita jangkung, kita akan mengatakan ini dangkal sekali. Kalau kita cebol kita akan mengatakan ini dalam sekali. Jadi, pakai apa?” tanyanya.

Menurut penulis buku Membuka Pintu Langit itu, banyak orang yang mengukur sesuatu dengan diri sendiri, bukan dengan ukuran yang pasti dan telah disepakati. “Katanya Alquran yang dijadikan ukuran. Tapi tidak mau perbedaan,” kata Gus Mus.

"Islam itu adil. Banyak sekali perintah untuk adil. Anda tidak akan bisa adil kalau terlalu berlebihan. Memenuhi perintah Allah untuk adil tidak akan bisa dilakukan bila masih berlebihan, terutama dalam membenci," ujar Gus Mus.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, menurut Gus Mus, yang perlu dilakukan ialah meningkatan keilmuan. Seluruh umat beragama mesti terus mencari tahu dan tidak hanya melihat persoalan dari satu sisi.

"Intinya memang ilmu. Jangan berhenti belajar. Kalau membela keyakinan, belajar tentang keyakinan Anda. Yang jadi masalah itu ialah orang yang tidak mengerti merasa mengerti," tutur Gus Mus.

Pada kesempatan yang sama, Cendekiawan Muslim Quraish Shihab mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia harus bersyukur dengan adanya Pancasila sebagai titik temu berbagai perbedaan pendapat terkait dengan ideologi. "Kita tidak bisa hidup tanpa perbedaan. Agama mengatakan cari titik temu. Pancasila titik temu yang ada di Indonesia," paparnya.

Quraish mengatakan itu terkait dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, yang tengah menghadapi intoleransi dan sikap sebagian kalangan yang menafikan keberagaman. "Kejadian ini banyak terjadi beberapa waktu belakangan. Seseorang yang tidak memiliki cukup pengetahuan soal agama banyak berkomentar, tanpa sebelumnya mencari tahu. Bodoh, tidak tahu agama, ngomong. Emosi beragama berlebihan menjadi pengantar ekstremisme," ujarnya.

Menurut Quraish, saat ini banyak orang yang terpengaruh dan mau diadu domba. Untuk menghindarinya, seseorang harus sering bertemu. Harus ada dialog dan kesepahaman untuk merasa bahwa kehidupan harus dipikul bersama agar tidak mudah diadu domba.

"Saya yakin orang yang paham Alquran tidak akan melakukan pemecahbelahan, termasuk pada nonmuslim," ujar Quraish.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai ancaman keberagaman Indonesia saat ini ialah munculnya monopoli pihak-pihak tertentu dalam menilai kebenaran. Hal tersebut tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

"Kondisi keberagamaan Indonesia, saya melihat secara makro kita harus bersyukur Indonesia di tengah keberagaman yang sangat kompleks sebenarnya masih memegang jati diri religiositas. Masih muncul di etnik dan wilayah mana pun," ujar Lukman.

Menag menambahkan banyak orang tidak menyelami agama lebih dalam sehingga menjadi salah satu ancaman keberagaman. "Mereka yang belajar agama hanya secara formal dan kurang menyelami sisi luarnya yang tidak bisa menerima perbedaan," tutupnya. (njs/dbs)



Lihat Juga :

Keyword : islam moderat wikipedia, contoh islam moderat, ciri-ciri islam moderat, islam moderat di indonesia, pemikiran islam moderat, pengertian islam moderat, tokoh islam moderat, makalah islam moderat

cintapadabisa.blogspot.com || kaderilmi.blogspot.com